Abstrak Latar Belakang Banjir dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang merugikan, memberikan beban tambahan pada sistem layanan kesehatan dan mengubah perilaku pencarian layanan kesehatan. Namun dampaknya terhadap kesejahteraan kesehatan kelompok rentan, seperti perempuan hamil dan anak-anak, di masyarakat Nigeria yang terbatas sumber daya dan terkena dampak konflik masih belum dieksplorasi. Studi ini mengkaji dampak banjir tahun 2024 di Negara Bagian Borno, Nigeria, terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan ibu dan anak. Metode Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif fenomenologis, dengan Focus Group Discussion semi-terstruktur sebagai metode pengumpulan data utama. Peserta dipilih secara purposif, dengan fokus pada rumah tangga yang memiliki ibu hamil dan anak balita. Enam FGD, masing-masing terdiri dari delapan peserta, dilakukan di enam konstituen geopolitik. Data ditranskripsi, dibingkai, diberi kode, dan dianalisis secara tematis menggunakan Nvivo. Hasil Banjir yang terjadi pada tahun 2024 di Borno memperburuk kerentanan yang ada pada infrastruktur sosial dan layanan kesehatan, sehingga mengganggu layanan kesehatan ibu dan anak yang penting. Fasilitas kesehatan umum kewalahan, dan beberapa fasilitas kesehatan digunakan kembali sebagai tempat penampungan, sehingga semakin memperparah kesulitan yang dialami oleh kelompok rentan. Banjir menyebabkan pengungsian besar-besaran, trauma emosional dan peningkatan risiko kesehatan, khususnya di kalangan anak-anak dan wanita hamil. Banjir menyebabkan wabah penyakit menular, penurunan akses terhadap layanan antenatal dan imunisasi dalam jangka panjang, hancurnya fasilitas kesehatan, hilangnya pasokan medis, dan kerusakan serta kontaminasi obat-obatan yang ada, serta hancurnya sistem rantai dingin yang sangat penting untuk pengawetan vaksin. Keyakinan budaya dan kesalahan pengelolaan lingkungan hidup semakin memperparah krisis ini. Kesimpulan Temuan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan sistem layanan kesehatan yang berketahanan iklim untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan manajemen bencana dalam konteks perubahan iklim. Pengungsian, trauma emosional, dan risiko kesehatan yang diakibatkannya, khususnya bagi kelompok marginal, menekankan perlunya sistem terpadu dan berketahanan iklim yang melindungi infrastruktur dan layanan kesehatan publik yang penting