Praktik pengelolaan lahan diketahui secara luas mempengaruhi kualitas tanah. Dalam ekosistem ini, mikroorganisme tanah berpartisipasi dalam siklus biogeokimia tanah; khususnya, transformasi bahan organik sangat penting untuk nutrisi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan keanekaragaman fungsional dan struktur komunitas mikroba tanah antara dua budidaya tanaman tomat di Maroko: satu dengan pengelolaan konvensional dan yang lainnya dengan praktik agroekologi. Keanekaragaman fungsi tanah dinilai dengan mengevaluasi kemampuan metabolisme mikroba menggunakan metode lempeng mikro Biolog EcoPlate⢠dan mengukur aktivitas enzim tanah. Biomassa mikroba bakteri, actinomycetes, dan jamur dievaluasi dengan kultur berbasis medium. Analisis menunjukkan bahwa komunitas mikroba tanah bereaksi berbeda-beda tergantung pada cara pengelolaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah pertanian organik menunjukkan aktivitas metabolisme dan keanekaragaman yang jauh lebih tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata perkembangan warna sumur (AWCD) sebesar 0,79 dibandingkan dengan 0,61 pada tanah konvensional. Demikian pula, aktivitas tanah β-D-galaktosidase, fosfatase, dan urease jauh lebih besar di tanah organik. Selain itu, populasi mikroba bakteri, actinomycetes, dan jamur lebih melimpah di tanah organik. Temuan-temuan ini menunjukkan dampak positif praktik pertanian organik dalam mempertahankan produktivitas dan kesehatan tanah dalam jangka panjang, serta mendukung peran pertanian organik dalam meningkatkan keberlanjutan dan produktivitas agroekosistem